PRODUK TEMPE KRIPIK KHAS WEDARI

Wedarijaksa-Selasa(19/11/19) Usaha kecil seperti pembuatan keripik tempe masih tetap ada di Desa Wedarijaksa yang menjadi kawasan perajin tempe dan hasil olahannya ini menjadi bukti nyata ketegaran salah seorang warga yang menjadi pengrajin dia adalah Sutri.

Sutri menggeluti usaha tempe sejak 20 tahun silam. Seiring dengan perkembangan zaman serta kian jenuhnya pasar konsumsi tempe memaksa Sutri menciptakan nilai tambah bagi tempe produksinya. Dia membuat tempe menjadi keripik sejak lima belas tahun silam. Kini, 25 kilogram kedelai setiap hari, diolah untuk diproses menjadi keripik tempe. Peralatan yang digunakan pun terbilang sederhana dan apa adanya. Misalnya, menggunakan ember karet untuk mengolah kedelai, menggunakan kawat lancip untuk melubangi plastik tempe, hingga api lilin yang dipakai untuk merapikan kemasan plastik keripik.

Inovasi baru ini ternyata mampu memperbaiki taraf ekonomi keluarga Sutri. Keuntungan bersih sebesar Rp 25 per keping keripik produksinya membuat Sutri dapat membesarkan tiga anaknya. Keripik kemudian dijual seharga 4.500 per plastik . Sutri mengaku prospek pemasaran keripik masih terbuka luas. Sebab, produsen sejenis masih belum banyak. Buktinya, di kawasan Wedarijaksa hanya Sutri yang membuat keripik tempe, sehingga relatif tak ada pesaing. Meski demikian, ketergantungan bahan baku kedelai impor  tetap sebagai kendala. Memang hingga kini baik guncangan krisis maupun kendala bahan baku masih dapat diatasi Sutri.
Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan